Beranda

SMPN 3 Denpasar Kunjungan Balasan ke Yishun Secondary School

Sebanyak 18 guru dan 21 siswa SMPN 3 Denpasar mengadakan kunjungan balasan ke Yishun Secondary School di Singapura pada 25-28 Januari lalu. Kunjungan pertama kalinya ke Yishun sebagai undangan resmi sekolah tersebut.

Yishun Secondary School ini merupakan salah satu sister school SMPN 3 Denpasar, bahkan tergolong aktif. Selain itu SMPN 3 Denpasar juga menjalin sister school dengan Melrose High School, Australia. Hanya belum mengadakan kunjungan balasan ke Australia sejak MoU ditandatangani tahun 2010 lalu.

Sementara hubungan elektronik antar siswa kedua sekolah sudah berjalan sejak lama. Siswa SMPN 3 menyampaikan informasi dengan bahasa Inggris, sedangkan siswa Australia menyampaikan informasi dengan bahasa Indonesia lewat email. Jawaban kedua siswa ini saling mengoreksi tatanan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Hubungan SMPN 3 dengan Yishun Secondary School di Singapura sudah terajut sejak 2010. Guru dan siswa Yishun sudah dua kali belajar budaya dan tari Bali di SMPN 3 Denpasar. Kerja sama dengan Yishun ini bermanfaat ganda. Selain diisi dengan hubungan akademis juga dalam seni budaya. Saat berkunjung ke SMPN 3 Denpasar, siswa Yishun belajar menari Bali, menulis aksara Bali dan keterampilan Bali lainnya. Selain mereka mengunjungi objek wisata di Bali, siswa Yishun belajar dua hari di kelas unggulan SMPN 3 Denpasar.

Saat kunjungan balasan ke Yishun belum lama ini, siswa SMPN 3 Denpasar juga mendapat kesempatan belajar di kelas selama dua hari. Sedangkan guru-guru SMPN 3 dan Yishun berdiskusi antarmata pelajaran.

Kerja sama dengan Yishun ini sangat efektif antar guru karena diisi dengan saling tukar pengalaman dalam pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Bahkan, Yishun membantu buku-buku untuk siswa SMPN 3 Denpasar.

Banyak mendapat pengalaman pembelajaran di Singapura. Bahkan, para siswa mengaku sangat terkesan diajar oleh guru asing karena aktivitas pembelajarannya beda dengan sekolah asal. Bedanya guru memberi aktivitas lebih kepada siswa dengan menggunakan waktu yang lama. Bahkan untuk keterampilan siswa diajar hingga benar-benar bisa. Misalnya membuat baju, baru selesai diajarkan jika siswa sudah benar-benar mampu mandiri membuat baju, walaupun sampai sembilan bulan. ''Ini bedanya kita dengan Singapura, lagi pula materi pelajaran tak banyak, namun intensif,'' ujarnya.

Selain studi banding ke Yishun, para guru dan siswa juga mengunjungi Saince Centre juga menikmati wisata kota.